- Back to Home »
- Selamatnya Spesies dari Zaman Es
Posted by : Unknown
Tuesday, January 27, 2015
Uap dan panas dari gunung berapi
memungkinkan spesies tanaman dan hewan selamat melewati zaman es. Sebuah studi
mengenai hal ini menawarkan bantuan bagi peneliti untuk mengatasi perubahan
iklim.
Sebuah tim periset internasional
menyatakan analisa mereka membantu menjelaskan misteri yang lama tidak
terpecahkan mengenai bagaimana sejumlah spesies selamat, kerap dalam isolasi,
pada wilayah yang tertutup gletser, dengan gunung berapi berperan sebagai oasis
kehidupan pada periode dingin
yang berkepanjangan.
"Uap gunung berapi dapat
melelehkan gua es besar di bawah gletser, dan suhu di bawah gletser bisa
puluhan derajat lebih hangat ketimbang di permukaan," kata Ceridwen
Fraser, ketua tim gabungan dari Universitas Nasional Australia. "Gua dan
ladang uap yang hangat menjadi tempat yang cocok untuk kehidupan beragam
spesies sepanjang zaman es."
"Kita dapat belajar banyak
dari mengamati dampak perubahan iklim masa lalu seraya berusaha mengatasi
perubahan pesat yang kini terjadi akibat ulah manusia," lanjut Fraser.
Belajar dari masa lalu
Tim peneliti mengkaji puluhan
ribu catatan mengenai bangsa lumut dan serangga Antartika yang dikumpulkan
berdekade lamanya oleh ratusan ilmuwan, dan menemukan bahwa ada lebih banyak
spesies yang hidup dekat dari gunung berapi, dan semakin jauh jumlahnya semakin
sedikit.
Patung gading mamut ditemukan di gua Stadel, Jerman,
termasuk dalam karya seni dari zaman es terakhir
Walau studi didasarkan pada
Antartika, temuan ini bisa membantu periset untuk memahami bagaimana sejumlah
spesies selamat dari zaman es di wilayah dingin lainnya, termasuk pada periode
yang diyakini tidak ada lahan bebas dari es di muka bumi.
Antartika memiliki sedikitnya 16
gunung berapi yang aktif sejak zaman es terakhir 20.000 tahun lalu, dengan
sekitar 60 persen spesies invertebrata yang hanya dapat dijumpai di Antartika,
kemungkinan besar karena kondisi unik yang memungkinkan mereka untuk
berevolusi.
Ekspansi secara
perlahan
Aleks Terauds dari Divisi
Antartika Australia, yang analisanya dipublikasikan oleh jurnal Proceedings of
the National Academy of Sciences, mengatakan semakin mendekati gunung berapi,
semakin banyak spesies yang ditemukan oleh peneliti.
"Pola ini mendukung
hipotesis kami bahwa beragam spesies telah memperluas jangkauan mereka dan
secara perlahan bergerak keluar dari wilayah gunung berapi sejak zaman es
terakhir," paparnya.
Anggota lain dalam tim, Steven
Chown, dari Universitas Monash di Melbourne, mengatakan temuan ini dapat
membantu memandu upaya konservasi di Antartika.
"Mengetahui di mana saja
'titik panas' keragaman hayati akan membantu kami dalam melindungi spesies saat
perubahan lingkungan yang disebabkan oleh manusia terus
mempengaruhi Antartika," tukasnya, seraya Fraser
memperingatkan bahwa suhu yang semakin hangat akan membuat lingkungan Antartika
rentan terhadap spesies yang invasif.
"Spesies yang paling mungkin
menjajah adalah spesies yang datang bersama manusia, bersamakapal-kapal yang
datang ke Antartika," pungkas peneliti perempuan
tersebut.
source : www.dw.de
